Temuan Audit Sertifikasi CPOTB yang Paling Sering Terjadi – Bagi pelaku usaha obat tradisional, audit Sertifikasi CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik) bukan sekadar pemeriksaan dokumen. Auditor dapat menilai apakah sistem mutu yang dibuat perusahaan benar-benar diterapkan dalam kegiatan produksi sehari-hari.
CPOTB mencakup berbagai aspek, antara lain personalia, bangunan dan fasilitas, sanitasi dan higiene, dokumentasi, produksi, pengawasan mutu, penyimpanan dan pengiriman, inspeksi diri, keluhan dan penarikan produk, kualifikasi-validasi, sistem komputerisasi, hingga manajemen risiko mutu.
Karena itu, perusahaan sebaiknya melakukan self-assessment sebelum audit. Tujuannya bukan sekadar membuat dokumen terlihat lengkap, tetapi memastikan setiap prosedur memiliki bukti penerapan dan dapat dijelaskan oleh personel terkait.
Untuk proses pengajuan, pelaku usaha dapat menggunakan sistem resmi BPOM, yaitu e-Sertifikasi BPOM. Standar pelayanan BPOM juga menjelaskan bahwa proses dapat mencakup evaluasi kelengkapan, audit sarana secara online/onsite, serta tindakan perbaikan apabila ditemukan temuan audit.
Apa Itu CPOTB?
CPOTB merupakan seluruh aspek kegiatan pembuatan obat tradisional yang bertujuan menjamin produk memenuhi persyaratan mutu sesuai tujuan penggunaannya.
Dalam regulasi yang berlaku, PerBPOM No. 25 Tahun 2021 tentang Penerapan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik menjadi salah satu dasar utama penerapan CPOTB. Peraturan tersebut menggantikan ketentuan teknis CPOTB tahun 2011 yang sudah tidak berlaku.
Untuk UKOT dan UMOT, BPOM juga memiliki ketentuan penerapan aspek CPOTB secara bertahap melalui PerBPOM No. 31 Tahun 2022.
Artinya, persiapan audit harus disesuaikan dengan jenis usaha, bentuk sediaan, tahap penerapan CPOTB, serta ruang lingkup sertifikasi yang diajukan.

Temuan Audit Sertifikasi CPOTB yang Perlu Diwaspadai
Berikut contoh area yang sering menjadi perhatian dalam pemeriksaan CPOTB. Daftar ini merupakan contoh temuan potensial berdasarkan aspek yang diwajibkan dalam CPOTB, bukan peringkat statistik resmi BPOM.1. Dokumentasi Belum Lengkap atau Tidak Konsisten
Dokumentasi merupakan salah satu aspek utama CPOTB. Masalah dapat muncul ketika SOP, formulir, catatan produksi, atau dokumen mutu tidak lengkap atau informasi antar-dokumen tidak konsisten.
Contohnya:
- SOP belum diperbarui.
- Formulir tidak memiliki identitas dokumen yang jelas.
- Catatan produksi tidak lengkap.
- Dokumen yang digunakan di lapangan berbeda dengan dokumen terkendali.
- Revisi dokumen belum didistribusikan kepada bagian terkait.
Keterangan:
Dokumen bukan hanya harus tersedia, tetapi harus terkendali dan mencerminkan proses yang benar-benar dilakukan.
2. Sanitasi dan Higiene Belum Diterapkan Konsisten
Sanitasi dan higiene merupakan bagian penting dalam penerapan CPOTB. Kondisi fasilitas, kebersihan personel, peralatan, dan lingkungan produksi perlu dikendalikan sesuai prosedur.
Contoh temuan:
- Jadwal pembersihan tidak konsisten.
- Bukti pelaksanaan sanitasi tidak lengkap.
- Prosedur higiene personel belum diterapkan dengan baik.
- Area produksi belum terjaga sesuai prosedur.
- Peralatan kebersihan tidak dikendalikan dengan baik.
Keterangan:
Perusahaan perlu memiliki prosedur sekaligus bukti bahwa kegiatan sanitasi dan higiene benar-benar dilaksanakan.
3. Personel Belum Memiliki Bukti Pelatihan yang Memadai
CPOTB menekankan pentingnya personel yang terkualifikasi dan terlatih. BPOM juga menjelaskan bahwa bukti kompetensi dapat dilihat antara lain dari catatan pelatihan, evaluasi efektivitas pelatihan, serta pengalaman individu dalam kegiatan pembuatan obat tradisional.
Contoh yang perlu diperiksa:
- Program pelatihan.
- Daftar peserta.
- Materi pelatihan.
- Bukti pelaksanaan.
- Evaluasi efektivitas.
- Catatan kompetensi personel.
Keterangan:
Pelatihan sebaiknya tidak berhenti pada daftar hadir. Perusahaan perlu dapat menunjukkan bahwa pelatihan memberikan pemahaman yang relevan dengan pekerjaan.
4. Pengendalian Bahan Baku Belum Optimal
Bahan baku merupakan bagian penting dari mutu produk. Pengendalian perlu dilakukan sejak penerimaan, pemeriksaan, penyimpanan, hingga penggunaannya dalam proses produksi.
Contoh temuan:
- Status bahan tidak jelas.
- Identitas bahan tidak lengkap.
- Pencatatan penerimaan tidak konsisten.
- Kondisi penyimpanan tidak sesuai.
- Sistem pengeluaran bahan belum terdokumentasi dengan baik.
Keterangan:
Perusahaan perlu memastikan bahan yang digunakan dapat ditelusuri dan statusnya dapat diketahui dengan jelas.
5. Area Produksi dan Peralatan Belum Sesuai Prosedur
Bangunan, fasilitas, peralatan, dan sarana penunjang merupakan bagian dari aspek CPOTB. Pedoman CPOTB menekankan perlunya fasilitas yang memadai, termasuk bangunan, peralatan, personel, bahan, wadah, dan label yang sesuai.
Contoh temuan:
- Peralatan belum memiliki identifikasi.
- Status kebersihan alat tidak jelas.
- Pemeliharaan belum terdokumentasi.
- Tata letak area belum mendukung alur proses.
- Kondisi fasilitas tidak sesuai prosedur.
Keterangan:
Kesiapan fasilitas sebaiknya diperiksa langsung melalui simulasi proses produksi sebelum auditor datang.
6. Proses Produksi Tidak Sepenuhnya Mengikuti SOP
Salah satu kondisi yang perlu dihindari adalah adanya perbedaan antara prosedur tertulis dengan praktik di lapangan.
Misalnya SOP menetapkan tahapan tertentu, tetapi operator melakukan proses dengan cara berbeda karena kebiasaan kerja.
Checklist internal:
- Apakah setiap tahapan produksi memiliki prosedur?
- Apakah operator memahami SOP?
- Apakah catatan proses diisi saat kegiatan berlangsung?
- Apakah penyimpangan dicatat?
- Apakah perubahan proses dikendalikan?
Keterangan:
Dokumen dan praktik harus berjalan selaras.
7. Pengawasan Mutu Belum Didukung Bukti yang Lengkap
Pengawasan mutu menjadi salah satu aspek penting CPOTB. Perusahaan perlu memastikan aktivitas pengujian dan pengendalian mutu dilakukan sesuai prosedur serta menghasilkan dokumentasi yang dapat ditelusuri.
Contohnya:
- Spesifikasi bahan belum terkendali.
- Catatan pengujian tidak lengkap.
- Hasil pemeriksaan tidak terdokumentasi dengan baik.
- Status pelulusan bahan atau produk tidak jelas.
- Peralatan pengujian belum dikelola sesuai prosedur.
Keterangan:
Pengawasan mutu harus terintegrasi dengan sistem dokumentasi dan pengambilan keputusan terkait mutu produk.
8. Kualifikasi dan Validasi Belum Memadai
Kualifikasi dan validasi merupakan bagian yang secara khusus tercakup dalam PerBPOM No. 25 Tahun 2021.
Temuan dapat muncul apabila perusahaan belum memiliki dokumentasi yang memadai terkait kegiatan kualifikasi atau validasi yang dipersyaratkan.
Contoh yang perlu diperiksa:
- Status peralatan.
- Kualifikasi fasilitas.
- Validasi proses yang relevan.
- Validasi pembersihan apabila diperlukan.
- Dokumentasi hasil dan tindak lanjut.
Keterangan:
Kebutuhan kualifikasi dan validasi perlu ditentukan berdasarkan proses dan risiko yang relevan, bukan sekadar membuat dokumen formal.
9. Inspeksi Diri dan Tindakan Perbaikan Belum Efektif
BPOM menjelaskan bahwa inspeksi diri merupakan tuntutan regulasi dan Apoteker Penanggung Jawab memiliki peran dalam memprakarsai serta mengendalikan tindak lanjutnya.
Masalah yang dapat muncul antara lain:
- Inspeksi diri tidak dilakukan berkala.
- Checklist tidak mencakup aspek yang relevan.
- Temuan tidak dianalisis.
- Tindakan koreksi tidak memiliki target yang jelas.
- Bukti penyelesaian tidak tersedia.
- Efektivitas tindakan tidak dievaluasi.
Keterangan:
Inspeksi diri seharusnya menjadi alat untuk menemukan masalah sebelum masalah tersebut ditemukan dalam audit eksternal.
10. Keluhan, Penarikan Produk, dan Ketertelusuran Belum Siap
CPOTB juga mencakup penanganan keluhan dan penarikan produk.
Perusahaan perlu mempunyai mekanisme untuk mengetahui bagaimana keluhan diterima, diselidiki, ditindaklanjuti, dan didokumentasikan.
Contoh yang perlu diperiksa:
- SOP penanganan keluhan.
- Formulir keluhan.
- Investigasi dan evaluasi.
- Tindakan korektif.
- Prosedur penarikan produk.
- Data distribusi.
- Ketertelusuran batch/lot.
Keterangan:
Kemampuan menelusuri produk menjadi penting ketika perusahaan harus melakukan investigasi atau tindakan penarikan.
Mengapa Temuan Audit CPOTB Harus Segera Ditindaklanjuti?
Temuan audit bukan sekadar catatan administratif. Dalam proses sertifikasi CPOTB, apabila hasil audit membutuhkan perbaikan, pelaku usaha perlu memenuhi tindakan perbaikan sebelum proses dapat dilanjutkan.
Standar pelayanan BPOM untuk CPOTB bertahap menunjukkan alur yang mencakup audit sarana, penerbitan permintaan perbaikan apabila diperlukan, pemenuhan tindakan perbaikan, evaluasi perbaikan, kemudian penerbitan hasil/ rekomendasi.
Karena itu, perusahaan sebaiknya tidak menunggu sampai auditor datang untuk mengetahui kelemahannya.
Lakukan:
- Gap analysis
- Self-inspection
- Pemeriksaan dokumen
- Simulasi audit
- Perbaikan fasilitas
- Pelatihan personel
- Penyelesaian CAPA
- Verifikasi efektivitas perbaikan
Langkah tersebut dapat membantu perusahaan menghadapi audit dengan persiapan yang lebih sistematis.
Bagaimana Proses Sertifikasi CPOTB?
Secara umum, proses dapat dimulai dari persiapan legalitas dan dokumen, pengajuan melalui sistem, evaluasi dokumen, audit sarana, hingga penyelesaian tindakan perbaikan jika terdapat temuan.
Untuk CPOTB bertahap, standar pelayanan BPOM mencantumkan proses permohonan melalui e-Sertifikasi setelah memiliki NIB dan memilih PBUMKU, evaluasi kelengkapan, penerimaan berkas, audit sarana secara online/onsite, perbaikan apabila diperlukan, evaluasi pemenuhan perbaikan, dan rekomendasi.
Secara sederhana:
Persiapan → Pengajuan → Evaluasi Dokumen → Audit → Temuan/Perbaikan bila ada → Evaluasi Perbaikan → Rekomendasi/Sertifikasi
Pelaku usaha dapat mengakses sistem resmi melalui e-Sertifikasi BPOM.
Tips Menghindari Temuan Audit CPOTB
Sebelum audit, lakukan pemeriksaan internal dengan pendekatan seperti auditor.
1. Periksa Dokumen
Pastikan SOP, instruksi kerja, formulir, catatan produksi, dan dokumen mutu tersedia serta terkendali.
2. Cocokkan Dokumen dengan Kondisi Lapangan
Jangan hanya bertanya, “Apakah SOP tersedia?” tetapi tanyakan juga, “Apakah SOP tersebut benar-benar diterapkan?”
3. Wawancarai Personel
Minta operator menjelaskan proses yang mereka lakukan. Jawaban personel sebaiknya konsisten dengan SOP.
4. Periksa Bukti Penerapan
Setiap prosedur penting harus memiliki bukti pelaksanaan yang sesuai.
5. Selesaikan Temuan Internal
Jangan menyimpan temuan sampai mendekati jadwal audit. Tetapkan PIC, target penyelesaian, dan bukti penyelesaian.
Apakah CPOTB Sama dengan ISO?
Tidak. CPOTB dan ISO merupakan sistem/standar yang berbeda.
BPOM secara eksplisit menjelaskan bahwa CPOTB dan ISO adalah dua hal berbeda, dan industri obat tradisional harus memenuhi persyaratan CPOTB.
Karena itu, perusahaan yang telah mempunyai sertifikasi ISO tidak otomatis dapat menganggap seluruh persyaratan CPOTB telah terpenuhi.
ISO dapat menjadi bagian dari sistem manajemen perusahaan, tetapi persyaratan CPOTB tetap perlu dipenuhi sesuai regulasi yang berlaku.
Berapa Lama Proses CPOTB?
Waktu proses bergantung pada jenis sertifikasi, kelengkapan dokumen, kesiapan sarana, hasil audit, serta apakah terdapat tindakan perbaikan.
Sebagai contoh, standar pelayanan CPOTB bertahap BPOM mencantumkan tahapan dan jangka waktu tertentu untuk pemeriksaan sarana, penyampaian perbaikan, evaluasi perbaikan, dan penerbitan rekomendasi.
Oleh sebab itu, klaim “10 hari kerja” sebaiknya dipahami sebagai estimasi layanan pendampingan administratif dari PERMATAMAS, bukan jaminan bahwa sertifikat CPOTB diterbitkan BPOM dalam 10 hari kerja.
Biaya Sertifikasi CPOTB
Biaya perlu dibedakan antara biaya resmi pemerintah dan biaya jasa pendampingan.
Besaran biaya resmi mengikuti ketentuan PNBP BPOM dan mekanisme yang berlaku pada saat pengajuan. Sementara itu, biaya konsultan dapat berbeda berdasarkan jenis usaha, tahapan CPOTB, kompleksitas fasilitas, jumlah produk, kondisi dokumen, dan ruang lingkup pendampingan.
Sebelum menggunakan jasa, sebaiknya perusahaan meminta rincian:
- Biaya resmi pemerintah.
- Biaya jasa pendampingan.
- Ruang lingkup pekerjaan.
- Dokumen yang disiapkan.
- Pendampingan audit.
- Pendampingan perbaikan/CAPA.
PERMATAMAS Siap Membantu Persiapan CPOTB
Persiapan CPOTB membutuhkan pemahaman terhadap dokumen sekaligus kondisi nyata fasilitas produksi. PERMATAMAS dapat membantu pelaku usaha melakukan persiapan administrasi dan pendampingan sesuai ruang lingkup layanan.
Keunggulan layanan PERMATAMAS:
✅ Proses cepat: estimasi layanan hingga sekitar 10 hari kerja
✅ Berpengalaman: menangani layanan perizinan sejak 2011
✅ Terpercaya: klaim pengalaman perusahaan mencakup +2.000 izin edar telah terbit melalui layanan yang ditangani
✅ Aman & resmi: pendampingan pengajuan diarahkan melalui sistem resmi yang berlaku
✅ Garansi: 100% uang kembali apabila kegagalan disebabkan kesalahan tim, sesuai syarat dan ketentuan layanan
Perlu dicatat, klaim pengalaman, estimasi waktu, dan garansi di atas merupakan klaim layanan PERMATAMAS, bukan jaminan penerbitan sertifikat oleh BPOM.
Selain CPOTB, kebutuhan legalitas usaha juga dapat mencakup pendirian badan usaha, merek, dan sertifikasi halal. Informasi pendirian perusahaan dapat dilihat melalui Jasa Pendirian PT PERMATAMAS, sedangkan kebutuhan pendaftaran merek dapat dikonsultasikan melalui Jasa Daftar Merek HAKI dan kebutuhan halal melalui Sertifikasi Halal.
Kesimpulan
Temuan audit Sertifikasi CPOTB dapat berkaitan dengan banyak aspek, mulai dari dokumentasi, sanitasi-higiene, personel, bahan baku, fasilitas, produksi, pengawasan mutu, validasi, inspeksi diri, hingga keluhan dan penarikan produk.
Yang paling penting, perusahaan jangan hanya mengejar kelengkapan dokumen. CPOTB menuntut agar sistem tersebut diterapkan secara konsisten dan dapat dibuktikan.
Dengan melakukan self-assessment dan simulasi audit sebelum pemeriksaan resmi, perusahaan dapat mengidentifikasi area yang masih membutuhkan perbaikan. Jika terdapat temuan dalam audit resmi, BPOM menyediakan mekanisme pemenuhan tindakan perbaikan dan evaluasinya sebelum proses rekomendasi dilanjutkan.
KONSULTASI GRATIS
FAQ Temuan Audit Sertifikasi CPOTB
1. Apa temuan audit CPOTB yang paling umum?
Area yang perlu diperhatikan antara lain dokumentasi, sanitasi-higiene, personel, fasilitas, produksi, pengawasan mutu, validasi, inspeksi diri, keluhan, dan penarikan produk.
2. Apakah dokumen lengkap menjamin lolos audit CPOTB?
Tidak. Dokumen perlu sesuai dengan kondisi aktual dan diterapkan secara konsisten.
3. Apakah SOP wajib tersedia?
Ya, perusahaan perlu memiliki prosedur yang sesuai dengan kegiatan dan persyaratan CPOTB yang berlaku.
4. Apakah personel harus mendapatkan pelatihan?
Personel perlu memiliki kompetensi yang sesuai. Bukti pelatihan dan evaluasi efektivitas pelatihan dapat menjadi bagian dari pembuktian kompetensi.
5. Apakah inspeksi diri diperlukan?
Ya. BPOM menjelaskan bahwa inspeksi diri merupakan bagian dari tuntutan regulasi CPOTB.
6. Apa yang dilakukan jika auditor menemukan ketidaksesuaian?
Perusahaan perlu melakukan tindakan perbaikan sesuai temuan dan mengikuti proses evaluasi pemenuhan perbaikan.
7. Apakah ISO menggantikan CPOTB?
Tidak. BPOM menyatakan CPOTB dan ISO merupakan dua hal yang berbeda.
8. Apakah UKOT dapat menerapkan CPOTB secara bertahap?
Ya. BPOM memiliki ketentuan penerapan aspek CPOTB secara bertahap untuk UKOT dan UMOT melalui PerBPOM No. 31 Tahun 2022.
9. Di mana pengajuan Sertifikasi CPOTB dilakukan?
Pengajuan dilakukan melalui sistem e-Sertifikasi BPOM sesuai jenis layanan dan ketentuan yang berlaku.
10. Apakah PERMATAMAS dapat membantu persiapan CPOTB?
PERMATAMAS menawarkan pendampingan persiapan dokumen dan proses administrasi sesuai ruang lingkup layanan yang disepakati.

