Perbedaan Izin Edar Jamu, OHT, dan Fitofarmaka – Perbedaan izin edar jamu, OHT, dan fitofarmaka merupakan hal mendasar yang wajib dipahami oleh pelaku usaha obat tradisional di Indonesia. Ketiga kategori tersebut sama-sama berada di bawah pengawasan BPOM, namun memiliki perbedaan signifikan dari sisi klaim, pembuktian khasiat, persyaratan izin edar, hingga proses registrasi.
Masih banyak pelaku usaha yang menganggap jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT), dan fitofarmaka memiliki proses perizinan yang sama. Padahal, perbedaan regulasi BPOM untuk masing-masing kategori ini sangat menentukan strategi pengembangan produk, segmentasi pasar, serta estimasi waktu dan biaya pengurusan izin.
Artikel ini membahas secara lengkap perbedaan izin edar jamu, OHT, dan fitofarmaka, mulai dari pengertian, dasar hukum, hingga aspek teknis dalam proses registrasi BPOM. Pembahasan ini juga menjadi bagian dari Jasa Pengurusan Izin BPOM Obat Tradisional Permatamas Indonesia.
Pengertian Jamu, OHT, dan Fitofarmaka
Sebelum memahami perbedaan perizinan BPOM obat tradisional, pelaku usaha perlu mengetahui definisi masing-masing kategori.
1. Jamu
Jamu merupakan obat tradisional yang khasiatnya dibuktikan berdasarkan pengalaman empiris atau penggunaan turun-temurun. Bahan yang digunakan berasal dari alam, baik nabati, hewani, maupun mineral, tanpa melalui uji praklinik atau klinik.
2. Obat Herbal Terstandar (OHT)
OHT adalah obat tradisional yang telah melalui uji praklinik untuk membuktikan keamanan dan khasiatnya. Bahan baku yang digunakan harus terstandarisasi, dan proses produksinya mengikuti ketentuan CPOTB yang lebih ketat dibanding jamu.
3. Fitofarmaka
Fitofarmaka merupakan obat herbal dengan tingkat pembuktian tertinggi. Khasiat dan keamanannya telah diuji melalui uji klinik pada manusia, sehingga penggunaannya dapat disejajarkan dengan obat modern.
Ketiga kategori ini memiliki perbedaan yang jelas, terutama dalam konteks Perbedaan Izin Edar Jamu, OHT, dan Fitofarmaka. daftarkan izin edar di BPOM sekarang
Dasar Hukum Izin Edar Obat Tradisional
Perbedaan Izin Edar Jamu, OHT, dan Fitofarmaka diatur dalam berbagai regulasi BPOM, antara lain:
• Peraturan BPOM tentang obat tradisional
• Ketentuan registrasi obat bahan alam
• Pedoman uji keamanan dan khasiat obat tradisional
Setiap kategori memiliki standar evaluasi yang berbeda sesuai dengan tingkat pembuktian ilmiahnya.
Perbedaan Izin Edar Jamu, OHT, dan Fitofarmaka dari Segi Klaim
Salah satu perbedaan paling mendasar terletak pada klaim khasiat yang boleh dicantumkan:
• Jamu: Klaim berdasarkan penggunaan tradisional, tanpa klaim penyembuhan penyakit spesifik
• OHT: Klaim didukung uji praklinik, dapat menyebutkan fungsi kesehatan tertentu
• Fitofarmaka: Klaim terapeutik yang telah diuji secara klinis
Kesesuaian klaim dengan kategori produk sangat menentukan kelulusan izin edar BPOM.

Perbedaan dari Segi Pembuktian Khasiat
Tingkat pembuktian ilmiah juga membedakan ketiga kategori ini:
• Jamu mengandalkan data empiris dan literatur tradisional
• OHT wajib menyertakan hasil uji praklinik
• Fitofarmaka harus didukung uji klinik pada manusiaa
Semakin tinggi tingkat pembuktian, semakin kompleks proses evaluasi BPOM. klik proses izin BPOM
Perbedaan dari Segi Bahan Baku
Standarisasi bahan baku menjadi faktor penting dalam proses registrasi:
• Jamu menggunakan bahan alam tanpa standarisasi ketat
• OHT menggunakan bahan baku terstandar
• Fitofarmaka menggunakan bahan baku dengan standar farmasi
Kualitas dan konsistensi bahan baku sangat memengaruhi penilaian BPOM.
Perbedaan dari Segi Proses Produksi
Standar fasilitas produksi juga berbeda:
• Jamu: CPOTB dasar
• OHT: CPOTB dengan pengendalian mutu lebih ketat
• Fitofarmaka: CPOTB setara industri farmasi
Peningkatan kategori produk menuntut peningkatan standar sarana produksi. klik cara mengurus izin BPOM
Perbedaan dari Segi Waktu dan Biaya Pengurusan
Dalam praktiknya, perbedaan izin edar jamu, OHT, dan fitofarmaka berdampak langsung pada durasi dan biaya:
• Jamu: proses relatif lebih cepat
• OHT: membutuhkan waktu tambahan untuk uji praklinik
• Fitofarmaka: proses paling panjang karena uji klinik
Pemahaman aspek ini penting untuk perencanaan bisnis yang realistis.
Perbedaan dari Segi Segmentasi Pasar
Setiap kategori memiliki target pasar yang berbeda:
• Jamu: pasar tradisional dan modern
• OHT: pasar kesehatan dan preventif
• Fitofarmaka: fasilitas kesehatan dan resep dokter
Strategi pemasaran harus disesuaikan dengan klasifikasi izin edar.
Kesalahan Umum dalam Memahami Kategori Izin Edar
Beberapa kesalahan yang sering terjadi, antara lain:
• Mengajukan klaim OHT pada produk jamu
• Tidak menyiapkan uji praklinik untuk OHT
• Menganggap fitofarmaka sama dengan jamu
• Tidak menyesuaikan dokumen registrasi
Kesalahan tersebut dapet menyebabkan penolakan izin edar BPOM. konsultasi gratis bersama Permatamas
Jasa Pengurusan Izin BPOM Obat Tradisional Permatamas Indonesia
Pemahaman perbedaan izin edar jamu, OHT, dan fitofarmaka merupakan bagian dari Jasa Pengurusan Izin BPOM Obat Tradisional Permatamas Indonesia. Permatamas Indonesia membantu pelaku usaha dalam menentukan kategori produk, menyiapkan dokumen, memilih jalur registrasi yang tepat, serta mendampingi proses evaluasi BPOM.
Dengan tim berpengalaman di bidang regulasi dan hukum, Permatamas Indonesia memastikan proses pengurusan izin berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
Keuntungan Menggunakan Jasa Permatamas Indonesia
Menggunakan jasa Permatamas Indonesia memberikan manfaat:
• Analisis kategori jamu, OHT, atau fitofarmaka
• Pendampingan dokumen dan registrasi BPOM
• Minim risiko penolakan
• Efisiensi waktu dan biaya
• Konsultasi regulasi yang tepat sasaran
Dengan pendampingan profesional, proses perizinan obat tradisional dapat berjalan lebih efektif dan terarah.
Pentingnya Memahami Perbedaan Izin Edar Jamu, OHT, dan Fitofarmaka
Perbedaan Izin Edar Jamu, OHT, dan Fitofarmaka mencakup aspek klaim, pembuktian khasiat, bahan baku, proses produksi, hingga strategi pemasaran. Memahami perbedaan ini sangat penting agar pelaku usaha dapat menentukan kategori produk yang tepat dan memenuhi seluruh persyaratan BPOM.
Oleh karena itu, Perbedaan Izin Edar Jamu, OHT, dan Fitofarmaka sebagai bagian dari Jasa Pengurusan Izin BPOM Obat Tradisional Permatamas Indonesia menjadi solusi tepat bagi pelaku usaha yang ingin menjalankan proses perizinan secara aman, tepat, dan sesuai regulasi.
Konsultasi Gratis
PERMATAMAS INDONESIA
Plaza THB Lantai 2 Blok F2 No.61 Kel. Pejuang, Kec. Medan Satria, Kota Bekasi, Jawa Barat
WhatsApp: 0857-7763-0555
Telp Kantor: 021-89253417
🌐 Website: www.izinherbal.com
FAQ Perbedaan Izin Edar Jamu, OHT, dan Fitofarmaka
1. Apa perbedaan izin edar jamu, OHT, dan fitofarmaka?
Perbedaan izin edar jamu, OHT, dan fitofarmaka terletak pada tingkat pembuktian khasiat, jenis klaim, standar bahan baku, serta persyaratan registrasi BPOM.
2. Apakah jamu, OHT, dan fitofarmaka sama-sama wajib izin BPOM?
Ya, jamu, OHT, dan fitofarmaka sama-sama wajib memiliki izin edar dari BPOM sebelum diedarkan di Indonesia.
3. Apa perbedaan klaim yang diperbolehkan pada jamu, OHT, dan fitofarmaka?
Jamu hanya boleh menggunakan klaim tradisional, OHT boleh menggunakan klaim berbasis uji praklinik, sedangkan fitofarmaka dapat menggunakan klaim terapeutik karena telah melalui uji klinik.
4. Mengapa izin edar fitofarmaka paling sulit diperoleh?
Karena fitofarmaka harus melalui uji klinik pada manusia, menggunakan bahan baku terstandar tinggi, dan diproduksi dengan standar setara industri farmasi.
5. Apakah produk jamu bisa ditingkatkan menjadi OHT atau fitofarmaka?
Bisa, sepanjang memenuhi persyaratan tambahan seperti uji praklinik untuk OHT dan uji klinik untuk fitofarmaka sesuai ketentuan BPOM.
6. Siapa yang dapat membantu pengurusan izin BPOM jamu, OHT, dan fitofarmaka?
Permatamas Indonesia melalui Jasa Pengurusan Izin BPOM Obat Tradisional membantu analisis kategori produk hingga pendampingan registrasi izin edar.
