Checklist Audit Sertifikasi CPOTB yang Wajib Dipenuhi Perusahaan – Bagi perusahaan yang memproduksi obat tradisional, sertifikasi CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik) bukan sekadar kelengkapan administrasi. CPOTB berkaitan langsung dengan bagaimana perusahaan memastikan proses produksi menghasilkan obat tradisional yang konsisten memenuhi persyaratan mutu sesuai tujuan penggunaannya. BPOM mendefinisikan CPOTB sebagai seluruh aspek kegiatan pembuatan obat tradisional yang bertujuan menjamin produk memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan.
Karena itu, persiapan audit CPOTB perlu dilakukan secara menyeluruh. Perusahaan tidak cukup hanya membuat SOP, tetapi harus dapat menunjukkan bahwa prosedur tersebut benar-benar diterapkan, memiliki rekaman, dievaluasi, dan diperbaiki apabila ditemukan ketidaksesuaian.
Artikel ini membahas checklist audit sertifikasi CPOTB, 10 contoh aspek yang perlu diperiksa, dokumen pendukung, kesalahan yang sering terjadi, serta tips mempersiapkan perusahaan sebelum menghadapi audit BPOM.
Apa Saja yang Diperiksa dalam Audit CPOTB?
Secara sederhana, audit CPOTB bertujuan menilai apakah perusahaan telah menerapkan persyaratan CPOTB secara nyata dalam kegiatan produksi.
BPOM menjelaskan bahwa penilaian sertifikasi CPOTB dilakukan melalui audit lapangan terhadap 11 aspek CPOTB. Untuk industri obat tradisional dan industri ekstrak bahan alam, penerapan CPOTB dibuktikan dengan sertifikat CPOTB.
Checklist persiapan perusahaan dapat mencakup:
- Sistem Manajemen Mutu.
- Personalia.
- Bangunan dan fasilitas.
- Peralatan.
- Sanitasi dan higiene.
- Produksi.
- Pengawasan mutu.
- Dokumentasi.
- Audit internal.
- Penanganan keluhan, penarikan kembali, produk kembalian serta kegiatan terkait lainnya.
Untuk UKOT dan UMOT, BPOM juga menyediakan mekanisme CPOTB secara bertahap, dengan tahapan yang disesuaikan dengan kemampuan dan skala usaha. PerBPOM No. 31 Tahun 2022 mengenai petunjuk teknis penerapan aspek CPOTB secara bertahap saat ini tercatat berstatus berlaku.
Mengapa Audit CPOTB Penting bagi Perusahaan?
Bayangkan perusahaan telah memiliki produk jamu atau obat tradisional yang mulai dikenal pasar. Permintaan meningkat, distributor bertambah, dan produksi dilakukan dalam jumlah lebih besar.
Pada kondisi seperti itu, konsistensi proses menjadi sangat penting. Bahan baku harus dikendalikan, proses produksi harus terdokumentasi, personel harus memahami tanggung jawabnya, dan produk jadi harus melalui pengawasan mutu.
Inilah alasan CPOTB tidak seharusnya dipandang sebagai kumpulan dokumen untuk menghadapi auditor. CPOTB adalah sistem yang harus hidup di dalam kegiatan perusahaan.
BPOM juga menjelaskan bahwa CPOTB merupakan faktor penting untuk menghasilkan obat tradisional yang memenuhi standar mutu dan keamanan.
Checklist Audit Sertifikasi CPOTB
Berikut checklist praktis yang dapat digunakan perusahaan sebagai gambaran awal sebelum menghadapi audit.
1. Sistem Manajemen Mutu
Sistem manajemen mutu menjadi dasar bagaimana perusahaan memastikan seluruh proses pembuatan obat tradisional dikendalikan.
Perusahaan perlu memiliki kebijakan mutu, sasaran mutu, struktur tanggung jawab dan mekanisme pengendalian terhadap proses yang berpengaruh terhadap kualitas produk.
Checklist:
- Apakah kebijakan mutu sudah tersedia?
- Apakah tanggung jawab setiap bagian jelas?
- Apakah terdapat prosedur pengendalian mutu?
- Apakah risiko mutu telah diperhatikan?
- Apakah penyimpangan dicatat dan ditindaklanjuti?
Prinsip CPOTB menekankan agar proses pembuatan ditetapkan dengan jelas, dikaji secara sistematis dan mampu menghasilkan produk yang memenuhi spesifikasi secara konsisten.
2. Personalia dan Kompetensi
Dokumen yang bagus tidak akan berjalan tanpa personel yang memahami tugasnya.
Perusahaan perlu memastikan personel yang terlibat dalam produksi, pengawasan mutu, gudang, sanitasi dan fungsi lainnya memiliki kompetensi yang sesuai.
Checklist:
- Struktur organisasi tersedia.
- Uraian tugas setiap posisi jelas.
- Personel memiliki kualifikasi sesuai tanggung jawab.
- Program pelatihan tersedia.
- Rekaman pelatihan terdokumentasi.
- Evaluasi efektivitas pelatihan dilakukan.
BPOM memasukkan personel yang terkualifikasi dan terlatih sebagai salah satu fasilitas penting dalam penerapan CPOTB.
3. Bangunan dan Fasilitas
Kondisi bangunan harus mendukung proses produksi yang terkendali.
Area penerimaan bahan, penyimpanan, produksi, pengemasan, pengawasan mutu dan penyimpanan produk jadi perlu ditata dengan mempertimbangkan alur kegiatan dan risiko kontaminasi.
Checklist:
- Layout bangunan tersedia.
- Alur personel jelas.
- Alur bahan jelas.
- Area produksi sesuai kebutuhan.
- Area penyimpanan memadai.
- Kebersihan ruangan terjaga.
- Fasilitas pendukung tersedia.
- Kondisi bangunan dipelihara.
BPOM menegaskan bahwa penerapan CPOTB membutuhkan bangunan dan fasilitas dengan luas yang memadai serta fasilitas yang sesuai dengan kegiatan pembuatan.
4. Peralatan Produksi
Peralatan produksi harus sesuai dengan proses yang dilakukan dan dikelola secara terkendali.
Perusahaan sebaiknya memiliki daftar peralatan, identitas alat, jadwal pemeliharaan dan prosedur penggunaan atau pembersihan sesuai kebutuhan.
Checklist audit:
- Daftar peralatan tersedia.
- Identitas alat jelas.
- Peralatan sesuai kapasitas produksi.
- Jadwal pemeliharaan tersedia.
- Prosedur pembersihan tersedia.
- Rekaman pemeliharaan tersedia.
- Status alat dapat diketahui.
- Peralatan kritis dikendalikan sesuai persyaratan.
Peralatan yang tidak terawat dapat meningkatkan risiko ketidaksesuaian proses produksi.
5. Sanitasi dan Higiene
Sanitasi dan higiene merupakan salah satu bagian penting dalam penerapan CPOTB.
Perusahaan perlu memiliki program kebersihan yang mencakup personel, bangunan, peralatan dan lingkungan sesuai kebutuhan.
Checklist:
- SOP sanitasi tersedia.
- Jadwal pembersihan tersedia.
- Rekaman pembersihan tersedia.
- Personel memahami higiene.
- Pakaian kerja sesuai kebutuhan.
- Pengendalian hama dilakukan.
- Fasilitas sanitasi terpelihara.
- Kondisi lingkungan dipantau sesuai kebutuhan.
Untuk UKOT, BPOM menjelaskan bahwa penerapan CPOTB bertahap dimulai antara lain dengan aspek sanitasi-higiene dan dokumentasi pada tahap awal.
6. Pengendalian Bahan Baku
Bahan baku merupakan bagian penting dari mutu produk akhir.
Perusahaan harus memiliki mekanisme untuk memastikan bahan yang digunakan sesuai spesifikasi dan statusnya jelas sebelum digunakan dalam produksi.
Checklist:
- Daftar pemasok tersedia.
- Kualifikasi pemasok dilakukan sesuai kebutuhan.
- Spesifikasi bahan tersedia.
- Penerimaan bahan didokumentasikan.
- Status karantina diterapkan.
- Bahan yang ditolak dipisahkan.
- Penyimpanan sesuai persyaratan.
- Sistem pelacakan bahan tersedia.
Konsep karantina dalam CPOTB digunakan untuk memisahkan bahan atau produk yang masih menunggu keputusan apakah dapat digunakan atau harus ditolak.
7. Proses Produksi
Audit juga akan melihat apakah proses produksi dilakukan sesuai prosedur yang telah ditetapkan.
Mulai dari penimbangan bahan, pengolahan, proses antara, pengemasan hingga produk jadi harus dikendalikan sesuai prosedur perusahaan.
Checklist:
- Formula tersedia dan terkendali.
- Instruksi produksi tersedia.
- Penimbangan dilakukan dengan benar.
- Identitas bahan dapat ditelusuri.
- Parameter proses dikendalikan.
- Hasil produksi dicatat.
- Penyimpangan ditangani.
- Produk antara dan produk ruahan diberi status yang jelas.
CPOTB menekankan bahwa proses pembuatan harus ditetapkan secara jelas dan mampu menghasilkan produk yang memenuhi persyaratan secara konsisten.
8. Pengawasan Mutu
Pengawasan mutu menjadi bagian penting untuk memastikan produk memenuhi spesifikasi yang ditetapkan.
Perusahaan perlu memiliki sistem pengambilan sampel, pemeriksaan dan keputusan terhadap bahan maupun produk sesuai persyaratan yang berlaku.
Checklist:
- Spesifikasi bahan tersedia.
- Spesifikasi produk tersedia.
- Metode pemeriksaan terdokumentasi.
- Sampel dikelola dengan benar.
- Hasil pemeriksaan dicatat.
- Produk yang tidak memenuhi persyaratan ditangani.
- Laboratorium atau fasilitas pengujian memenuhi ketentuan yang berlaku.
Pengawasan mutu tidak seharusnya hanya dilakukan ketika auditor akan datang. Rekaman harus menunjukkan bahwa aktivitas tersebut memang berlangsung secara rutin.
9. Dokumentasi dan Rekaman
Dokumentasi merupakan salah satu aspek yang sangat sering menjadi perhatian dalam audit.
Dokumen harus terkendali sehingga personel menggunakan versi yang benar. Rekaman juga harus dapat menunjukkan siapa yang melakukan suatu aktivitas, kapan dilakukan dan apa hasilnya.
Checklist:
- SOP memiliki nomor dokumen.
- Versi/revisi tercatat.
- Tanggal berlaku tersedia.
- Dokumen disetujui pihak berwenang.
- Dokumen lama dikendalikan.
- Rekaman mudah ditelusuri.
- Koreksi rekaman dilakukan sesuai prosedur.
- Penyimpanan dokumen terkendali.
Khusus untuk UKOT dan UMOT yang menerapkan CPOTB secara bertahap, dokumentasi merupakan bagian yang secara eksplisit menjadi fokus tahapan penerapan.
10. Audit Internal, Keluhan dan Penarikan Produk
Perusahaan perlu memiliki mekanisme untuk mengetahui apakah sistemnya benar-benar berjalan.
Audit internal membantu menemukan kelemahan sebelum menjadi masalah yang lebih besar.
Selain itu, perusahaan perlu memiliki prosedur untuk menangani keluhan, produk kembalian dan penarikan kembali produk apabila diperlukan.
Checklist:
- Program audit internal tersedia.
- Auditor internal ditetapkan.
- Checklist audit tersedia.
- Temuan dicatat.
- Tindakan koreksi dilakukan.
- Efektivitas tindakan diperiksa.
- Prosedur keluhan tersedia.
- Prosedur recall tersedia.
- Rekaman produk kembalian tersedia.
- Sistem penelusuran produk berjalan.
Dalam penerapan CPOTB bertahap untuk UKOT, aspek audit internal, keluhan, penarikan kembali, produk kembalian dan kegiatan kontrak termasuk dalam tahapan penerapan berikutnya.

Contoh Checklist Audit CPOTB dan Keterangannya
Berikut 10 contoh pertanyaan yang dapat digunakan sebagai checklist awal internal perusahaan. Checklist ini bersifat praktis dan bukan pengganti checklist resmi atau penilaian BPOM.
| No. | Checklist Audit | Keterangan |
|---|---|---|
| 1 | Apakah SOP tersedia? | Memastikan proses memiliki prosedur tertulis |
| 2 | Apakah SOP diterapkan? | Membuktikan dokumen bukan sekadar formalitas |
| 3 | Apakah personel telah dilatih? | Memastikan petugas memahami tanggung jawab |
| 4 | Apakah rekaman produksi lengkap? | Memastikan proses dapat ditelusuri |
| 5 | Apakah bahan baku dikendalikan? | Memastikan bahan memiliki status dan spesifikasi jelas |
| 6 | Apakah peralatan dipelihara? | Menjaga kesiapan dan kondisi alat |
| 7 | Apakah sanitasi dilakukan rutin? | Mengendalikan kebersihan sarana |
| 8 | Apakah pengawasan mutu berjalan? | Memastikan bahan dan produk diperiksa sesuai ketentuan |
| 9 | Apakah audit internal dilakukan? | Menemukan ketidaksesuaian sebelum audit eksternal |
| 10 | Apakah CAPA terdokumentasi? | Memastikan temuan ditindaklanjuti dan diperbaiki |
CPOTB Bertahap untuk UKOT dan UMOT
Tidak semua pelaku usaha obat tradisional memiliki skala dan kemampuan yang sama. Karena itu, BPOM menyediakan mekanisme penerapan CPOTB secara bertahap bagi UKOT dan UMOT.
PerBPOM No. 31 Tahun 2022 secara khusus memberikan petunjuk teknis penerapan aspek CPOTB secara bertahap untuk UKOT dan UMOT. Regulasi tersebut tercatat berlaku dalam database regulasi BPOM.
Dalam laporan BPOM, UKOT dijelaskan memiliki tahapan penerapan yang mencakup sanitasi-higiene dan dokumentasi pada tahap awal, kemudian sistem manajemen mutu, produksi, pengawasan mutu dan penyimpanan, hingga aspek personalia, bangunan, fasilitas, peralatan, audit internal, keluhan, penarikan kembali dan produk kembalian pada tahapan berikutnya.
Hal ini penting dipahami oleh pemilik usaha agar tidak menganggap semua perusahaan harus mempersiapkan dokumen dengan pola yang sama.
Bagaimana Proses Audit Sertifikasi CPOTB?
Secara umum, perusahaan perlu memulai dari identifikasi kebutuhan sertifikasi, menyiapkan sistem, menerapkan prosedur, melakukan evaluasi internal dan kemudian mengajukan sertifikasi melalui mekanisme yang ditetapkan BPOM.
Portal resmi e-Sertifikasi BPOM digunakan dalam layanan sertifikasi elektronik BPOM.
Untuk industri obat tradisional dan industri ekstrak bahan alam, BPOM menjelaskan bahwa sertifikasi CPOTB dinilai melalui audit lapangan terhadap 11 aspek CPOTB. Sertifikat CPOTB berlaku selama 5 tahun dan perpanjangan dilakukan dalam waktu 6 bulan sebelum masa berlaku berakhir.
Karena itu, persiapan sebaiknya dilakukan jauh sebelum jadwal audit, bukan beberapa hari sebelumnya.
Kesalahan yang Sering Menyebabkan Persiapan Audit Tidak Optimal
1. SOP Dibuat Hanya untuk Audit
SOP seharusnya menggambarkan proses yang benar-benar dilakukan perusahaan.
2. Tidak Ada Rekaman
SOP menyatakan suatu aktivitas dilakukan, tetapi perusahaan tidak memiliki bukti pelaksanaannya.
3. Dokumen Tidak Konsisten
Nama produk, nama bahan, nomor dokumen atau data perusahaan berbeda antara satu dokumen dengan dokumen lainnya.
4. Personel Tidak Memahami SOP
Dokumen sudah lengkap, tetapi ketika ditanyakan mengenai prosedur, personel tidak dapat menjelaskan prosesnya.
5. Audit Internal Tidak Efektif
Audit internal hanya dilakukan untuk memenuhi checklist tanpa benar-benar mencari ketidaksesuaian.
6. Temuan Tidak Ditindaklanjuti
Perusahaan mengetahui ada masalah, tetapi tidak memiliki bukti tindakan koreksi dan pencegahan.
7. Kondisi Lapangan Berbeda dengan Dokumen
Layout, alur proses, jumlah ruangan atau penggunaan fasilitas tidak sesuai dengan dokumen yang diajukan.
Tips Agar Perusahaan Lebih Siap Menghadapi Audit CPOTB
Gunakan pendekatan “dokumen – penerapan – bukti”.
Artinya, untuk setiap persyaratan, perusahaan harus mampu menjawab tiga pertanyaan:
Apa prosedurnya?
Ada SOP atau dokumen yang menjelaskan proses.
Apakah prosedur dijalankan?
Personel benar-benar mengikuti SOP.
Apa buktinya?
Tersedia rekaman yang menunjukkan penerapan.
Jika salah satu dari tiga bagian tersebut tidak tersedia, area tersebut layak menjadi prioritas dalam persiapan audit.
Jasa Pendampingan Sertifikasi CPOTB
Persiapan sertifikasi CPOTB dapat cukup kompleks, khususnya bagi perusahaan yang baru membangun sistem mutu. Pendampingan profesional dapat membantu melakukan gap assessment, penyusunan dokumen, SOP, persiapan rekaman, evaluasi kesiapan dan pendampingan proses sertifikasi.
Keunggulan layanan kami:
- Proses cepat: hanya 10 hari kerja untuk proses layanan/pendampingan yang menjadi ruang lingkup jasa.
- Berpengalaman: sejak tahun 2011.
- Terpercaya: +2.000 izin edar telah terbit.
- Aman & resmi: proses pendampingan dilakukan melalui prosedur dan kanal resmi yang berlaku.
- Garansi: 100% uang kembali sesuai syarat dan ketentuan layanan.
Catatan penting: target “10 hari kerja” merupakan target layanan pendampingan, bukan jaminan bahwa BPOM menerbitkan sertifikat CPOTB dalam 10 hari. Jadwal audit, evaluasi, perbaikan/CAPA dan keputusan sertifikasi tetap mengikuti proses BPOM.
Untuk proses sertifikasi, gunakan e-Sertifikasi BPOM sebagai kanal resmi yang relevan.
Layanan Pendukung untuk Perusahaan
Persiapan CPOTB sering berjalan bersamaan dengan kebutuhan legalitas dan perlindungan bisnis lainnya.
Untuk pendirian badan usaha, Anda dapat melihat Jasa Pendirian PT Perusahaan.
Untuk perlindungan nama dan identitas bisnis, tersedia Jasa Daftar Merek HAKI.
Sedangkan untuk kebutuhan sertifikasi halal, informasi layanan dapat dilihat melalui Sertifikasi Halal.
Ketiga proses tersebut memiliki dasar persyaratan dan instansi yang berbeda dari sertifikasi CPOTB, sehingga dokumen perlu dipersiapkan sesuai tujuan masing-masing.
Kesimpulan
Checklist audit sertifikasi CPOTB yang wajib dipenuhi perusahaan sebaiknya tidak hanya berfokus pada kelengkapan dokumen. Perusahaan harus memastikan sistem benar-benar diterapkan dalam kegiatan sehari-hari.
Mulai dari sistem manajemen mutu, personalia, bangunan dan fasilitas, peralatan, sanitasi-higiene, bahan baku, produksi, pengawasan mutu, dokumentasi, hingga audit internal dan penanganan keluhan/recall, setiap aspek perlu memiliki prosedur dan bukti penerapan yang dapat ditelusuri. BPOM menyebut penilaian sertifikasi CPOTB dilakukan melalui audit lapangan terhadap 11 aspek CPOTB.
Untuk UKOT dan UMOT, tersedia pula skema CPOTB secara bertahap yang diatur melalui PerBPOM No. 31 Tahun 2022.
Jadi, prinsip paling sederhana dalam mempersiapkan audit adalah:
Bukan hanya “punya dokumen”, tetapi “dokumennya benar, diterapkan, dan ada buktinya”.
KONSULTASI GRATIS
FAQ Checklist Audit Sertifikasi CPOTB
1. Apa itu audit CPOTB?
Audit CPOTB adalah proses penilaian terhadap penerapan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik pada sarana produksi obat tradisional.
2. Apa saja yang diperiksa saat audit?
BPOM menyebut sertifikasi CPOTB dinilai melalui audit lapangan terhadap 11 aspek CPOTB.
3. Apakah SOP wajib dalam CPOTB?
Ya. Dokumentasi dan prosedur merupakan bagian penting dalam penerapan CPOTB.
4. Apakah rekaman produksi harus tersedia?
Ya. Rekaman diperlukan sebagai bukti bahwa proses yang ditetapkan memang telah dilaksanakan.
5. Apakah audit internal diperlukan?
Audit internal merupakan salah satu aspek penerapan CPOTB, khususnya dalam tahapan penerapan yang relevan bagi pelaku usaha.
6. Apa itu CPOTB bertahap?
CPOTB bertahap merupakan mekanisme penerapan aspek CPOTB secara bertahap yang ditujukan antara lain bagi UKOT dan UMOT.
7. Apakah semua perusahaan harus menerapkan CPOTB dengan tahapan yang sama?
Tidak. Skema dan tahapan dapat berbeda sesuai kategori usaha dan ketentuan yang berlaku.
8. Berapa lama sertifikat CPOTB berlaku?
BPOM menyebut sertifikat CPOTB berlaku selama 5 tahun, dengan perpanjangan dilakukan dalam waktu 6 bulan sebelum masa berlaku berakhir.
9. Apakah dokumen saja cukup untuk lulus audit?
Tidak. Dokumen harus mencerminkan sistem yang benar-benar diterapkan di sarana produksi.
10. Di mana pengajuan sertifikasi CPOTB dilakukan?
Pelaku usaha dapat menggunakan sistem e-Sertifikasi BPOM sesuai mekanisme layanan yang berlaku.


